Informasi

empty
KETEGUHAN UMAIR BIN SA’AD RADIALLAHU`ANHU OLEH : ALI WAFA, LC

 Umair bin Sa`ad adalah sahabat Rasulullah sallallahu `alaihi wsallam yang sejak kecil sudah merasakan pedihnya dan sedihnya menjadi yatim. Ayahnya Sa`ad meninggal dunia saat dia masih belia. Ia hidup bersama ibunya hingga dia beranjak baligh. Kemudian ibunya menikah lagi dengan laki-laki kaya yang masih familinya bernama Julas.

Julas, ayah tiri Umair memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang. Julas mencintai Umair seperti anaknya sendiri, sehingga Umair terobati kegundahan dan kesedihannya karena ditinggal ayahnya. Umair juga sangat mencintai ayah tirinya itu, bahkan ia telah menganggapnya layaknya ayah sendiri. Umair, Ibu, dan Julas hidup tentram penuh kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.

 

Umair adalah anak yang tumbuh dalam didikan keimanan oleh ibunya. Ia selalu menghadiri majlis Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam. Aktif sholat lima waktu berjamaah di masjid Rasulullah. Ibunya sangat bahagia setiap kali melihat Umair berangkat ke masjid dan datang dari masjid yang kadang2 ditemani oleh Julas ayah tirinya.

Akar-akar keimanan tumbuh kuat dalam hati Umair. Kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya semakin mekar dan mempesona. Kekagumannya kepada Rasulullah dan sahabatnya semakin kuat.

Suatu hari Rasulullah mengumumkan kepada seluruh kaum muslimin di Masjid Nabawi, bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi Rasululah akan melakukan jihad fi sabilillah menghadapi pasukan Romawi di Tabuk, yang kemudian perang itu dinamai Perang Tabuk. Rasulullah mengumumkan secara detail kepada kaum muslimin tentang kondisi musuh yang akan dihadapi, persenjataan mereka yang lengkap dan jauhnya perjalanan menuju ke Tabuk.

Rasulullah menjelaskan dengan terperinci agar kaum muslimin mempersiapkan diri dengan baik, karena pada saat Madinah sedang berada di musim kemarau dimana kebun-kebun sudah tak berbuah lagi, persediaan sudah mulai menipis, dan matahari memancarkan sinarnya dengan sangat menyengat. Pengumuman itu juga ditujukan untuk menguji para sahabatnya, siapa diantara mereka yang sungguh-sungguh loyal kepada Islam dan siapa yang di dalam hatinya ada penyakit nifaq?

Dengan kondisi seperti diatas ternyata kaum muslimin menyambut seruan Rasulullah dengan suka cita dan penuh semangat, kecuali sekelompok orang yang dalam hatinya penuh dengan kemunafikan. Mereka kaum munafik meremehkan seruan Rasulullah, mengolok-olok keputusan Rasulullah yang mereka anggap tidak masuk akal, bahkan mereka mulai menyebarkan keraguan dikalangan kaum muslimin yang lain.

Pada hari-hari setelah rasulullah mengumumkan jihad itu, Umair menyasikan dengan mata kepalanya sendiri suatu pemandangan yang menakjubkan dan menyuburkan keimanan. Ia menyaksikan wanita-wanita mu`minah dari kaum anshar yang datang kepada Rasulullah menyerahkan perhiasan-perhiasan mereka kepada Raslulullah. Mreka melepas kalung, cincin, gelang dan barang-barang berharga lainnya dan menyerahkan kepada Rasulullah untuk dijadikan biaya jihad fi sabilillah.

Pada saat itu Umair juga menyaksikan ketika sahabat Utsman bin Affan datang kepada Rasulullah membawa buntalan yang berisi seribu dinar emas. Ia juga menyaksikan Abdurrahman Bin `Auf yang datang memikul 200 uqiyah emas dan menyerahkannya kepada Rasulullah (1 uqiyah = 7,4 dinar, 1dinar = 2,2 juta, jadi Abdurrahman Bin `Auf menyerahkan hartanya sebesar kurang lebih 3,256 miliar).

Ketakjuban Umair semakin besar tatkala ia melihat sebagian sahabat yang menjual kasurnya untuk membeli pedang untuk ikut berjihad di jalan Allah subhanahu wata`ala. Umair merekam semua apa yang ia saksikan tadi dalam fikirannya. Ia juga ingin ikut serta dalam jihad fi sabilillah, tapi umurnya yang masih sangat muda tidak memungkinkan untuk itu. Dalam diri Umair ada yang terasa aneh, ternyata dari sekian banyak sahabat yang ia saksikan, dia tidak melihat Julas. Ia kaget bercampur kecewa mengapa orang yang selama ini ia cintai tidak ikut serta dalam barisan mujahidin, padahal ia adalah orang yang kaya…? Berkecamuklah rasa dalam hati Umair. Dia ingin segera menemui ayah tirinya itu dan ingin menceritakan apa yang ia saksikan beberapa hari ini di masjid rasulullah.

Berceritalah Umair kepada Julas tentang apa yang dia saksikan dari semangat dan kedermawanan para sahabat Rasulullah yang lain. Terkejutlah umair karena Julas sama sekali tidak tertarik dengan cerita Umair, bahkan Umair lebih tersentak kaget ketika yang ia dengar dari lisan Julas adalah kalimat yang sangat menghantam ruh keimanannya. Julas malah berkata :

إن كان محمد صادقا فيما يدعيه من النبوة فنحن شر من الحمير

 

“jika Muhammad itu benar dengan pengakuan kenabiannya maka, kita ini lebih jelek dari keledai-keledai”.

Ketika mendengar kalimat itu keluar dari lisan Julas seakan darah berhenti mengalir di tubuh Umair. Terkejut, kaget dan bingung menyatu dalam dirinya. Bagaimana mungkin orang yang selama ini ia cintai mengeluarkan kalimat yang bertentangan dengan suara keimana? Kalimat itu dalam pemahaman Umair adalah kalimat yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Umair diam begitu lama. Ia berfikir keras apa yang harus ia perbuat. Ia menghadapi dilema; jika ia menyebarkan dan menyampaikan apa yang dikatakan Julas kepada orang lain, ia khawatir akan dikatakan sebagai anak yang durhaka kepada ayah tirinya, ia khawatir akan dianggap sebagai anak yang tidak tahu balas budi. Tetapi kalau dia diam dan menutupi masalah Julas, ia takut menjadi pengkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dilema ini terus berperang di benak Umair. Ia harus memutuskan dan memilih diantara dua perkara yang sama-sama pahitnya. Kemudian dia menoleh kepada Julas dan berkata kepadanya: Demi Allah wahai Julas. Tidak ada dimuka bumi ini orang yang lebih aku cintai setelah Muhammad Rasulullah daripada engkau. Engkaulah orng yang paling aku cintai dan aku muliakan, etapi engkau telah mengatakan perkataan jika aku sembunyikan, maka aku telah berkhianat kepada tuhanku dan agamaku, dan aku telah berazam untuk menyampaikan hal ini kepada Rasulullah, maka hendaklah engkau mempertanggung jawabkan perkataanmu.

Umair pergi menghadap Rasulullah menyampaikan apa yang ia dengar dari Julas. Rasulullah menahan Umair dan menyuruh salah satu sahabatnya memnggil Julas untuk dimintai keterangannya. Ketika Julas sudah datang, Rasulullah berkata kepada Julas: “benarkah kamu mengatakan apa yang disampaikan oleh Umair wahai Julas?” Julas kemudian berkata: “Dia (Umair) telah berdusta dan mengada-ngada wahai Rasulullah. Aku tidak mengatakan perkataan itu”.

Umair kaget dan terkejut dengan jawaban Julas. Para sahabat yang hadir pun bingung dan bertanya-tanya siapa yang benar antara Umair dan Julas.

Rasulullah menoleh kepada Umair, beliau melihat wajah Umair memerah menahan amarah sedangkan air matanya menganak sungai membasahi pipinya. Kemudian Umair berkata: ”ya Allah, turunkanlah kepada nabimu bukti kebenaran dari apa yang aku katakan. Ya Allah ya Allah, Turunkanlah kepada nabimu bukti kebenaran dari apa yang aku katakan!!”

Julas membela diri dan berkata: ”sungguh ya Rasulallah apa yang aku katakan kepadamu itu benar, dan aku bersumpah dengan Nama Allah bahwa aku tidak mengatakan apa yang disampaikan Umair!”

Tidak berapa lama kemudian wajah Rasulullah tampak tenang dan berseri-seri kemudian beliau membacakan firman Allah: “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula)penolong di muka bumi”.

Mendengar ayat itu gemetarlah Julas, wajahnya pucat seakan darah berhenti mengalir, kemudian dia menoleh kepada Rasulullah dan berkata dengan suara tercekat: “Aku bertaubat ya Rasulallah! Aku bertaubat Ya Rasulallah!! Umair benar dan aku telah berdusta, ya Rasulallah mohonkanlah kepada Allah agar Allah menerima Taubatku!!”

Rasulullah menoleh kepada Umair dan beliau melihat air mata membanjiri wajahnya yang diterangi cahaya Iman. Kemudian Rasulullah memegang telinga Umair dan berkata: “Sunggguh jujur dan setia telingamu, tidaklah ia mendengar melainkan tuhanmu yang membenarkan”.

Setelah itu Julas kembali kepangkuan Islam dan ikut bersama para sahabat menginfakkan hartanya dan berjihad dijalan Allah. Setiap kali ia mendengar nama Umair disebutkan ia berkata: “Semuga Allah membalasnya dengan kebaikan, Dia telah mennyelamatkanku dari kekufuran dan membebaskan diriku dari neraka.”

HIKMAH :

  • Setiap mu`min harus mencintai Allah dan Rasulnya melebihi segala sesuatu termasuk kedua orang tua.
  • Ketaatan kepada Allah dan Rasulnya harus didahulukan daripada yang lainnya.
  • Keimanan kepada Allah dan Rasulnya membutuhkan pembuktian dan pengorbanan. Tidak ada iman tanpa bukti, dan tidak ada cinta tanpa pengorbanan.
  • Setiap mu`min harus menjadikan aturan Allah Dan Rasul-Nya sebagai rujukan dan alat ukur utama dalam melakukan segala ucapan dan perbuatan.
  • Kebenaran pasti akan dimenangkan oleh Allah, dan kebohongan pasti akan dihinakan oleh Allah.

Saudaraku yang mencintai Allah…

Marilah kita selalu memperbaharui dan memperbaiki keimanan kita kepada Allah dengan berusaha sekuat mungkin mewujudkan apa yang Allah perintahkan dan berusaha sekuat mungkin untuk menghindari dan meninggalkan segala apa yang dilarang dan dibenci oleh Allah dan RasulNya. Semoga Allah memudahkan usaha kita dalam kebaikan dan memudahkan kita menghindar dari keburukan. Amiin.

(disarikan dari kitab Suwar min hayatis shahabah, DR. Abdurrahman Ra`fat Basya )