Informasi

empty
MENDOAKAN PARA PENGUASA OLEH : JAMAL BAKARISUK

Salah satu varian ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada hamba-hambanya yang beriman adalah doa. Setiap hamba dapat menggunakannya kapanpun dia mau, dan dimanapun, baik dalam keadaan terdesak maupun lapang. Namun, sangat disayangkan sebagian manusia terkadang lupa terhadadap varian ibadah ini, dan sebagian yang lain hanya menggunakannya ketika dalam kondisi terjepit. Padahal Allah SWT telah berfirman: “berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan” (QS. Ghofir: 60)

Manusia yang mengabaikan berdoa dan tidak menggantungkan harapannya kepada Allah, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Sebuah syair arab mengatakan :

لا تسئلنّ بني ءادم حاجةً # وسل الذي حجابُه لا يحجبُ

والله يغضبُ إن تركتَ سؤالهُ # وبني ءادم يغضبُ حين يسألُ

Janganlah engkau meminta suatu hajat kepada anak adam (Manusia). Memintalah kepada Dzat (Allah) yang tiada penghalang untuk mengabulkannya.

Allah murka tatkala kamu meninggalkan permintaan kepadanya. Sebaliknya anak adam marah ketika Engkau banyak meminta kepadanya.

Doa menjadikan seorang hamba mengerti akan jati dirinya. Manusia tidak akan pernah berbangga diri ketika menperoleh kesuksesan karena tak lain datangnya dari Allah, sebaliknya ketika manusia menemui kegagalan dan musibah tak lain dan tak bukan adalah ketentuan Allah untuk menguji dirinya. Pada akhirnya kesadaran akan jati diri melahirkan lisan yang selalu basah dengan doa dan munajat kepada Sang Khalik. Dalam setiap gerak-geriknya seorang hamba selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan, maka sudah sepantasnya selalu meminta dan memohon yang terbaik kepada Allah. Dengan doa seorang hamba tidak hanya dekat dan terikat kepada Allah, lebih dari itu ia akan dicintai oleh Allah Sang Maha Sempurna.

Di ntara doa yang harus selalu kita sisipkan di antara bait-bait doa kita kepada Allah subhanahu wata`ala adalah bait doa untuk kebaikan penguasa negeri ini, supaya selalu diberikan petunjuk oleh Allah dalam menjalankan amanahnya. Jika penguasa itu dzalim supaya meninggalkan kedzalimannya dan berpihak kepada keadilan, sehingga penguasa itu mampu menghadirkan kedamaian, kesejahteraan dan kemajuan bagi bangsanya.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “seandainya aku diberikan doa yang mustajab maka aku akan mendoakan (kebaikan) bagi para penguasa”. Imam Ahmad mengakui betapa pentingnya peran pemimpin demi terlaksananya kemaslahatan Umat, oleh karenanya pemimpin yang baik akan memberikan dampak baik pula terhadap Umat.

Apabila segala bentuk usaha telah dilakukan termasuk usaha dalam memilih pemimpin, maka yang tak kalah penting dan menjadi faktor penentu adalah penyerahan total segara urusan kepada Allah dengan memperbanyak doa. Melihat begitu kompleksnya permasalahan di Negeri yang mayoritas penduduknya mengaku muslim, tentu menimbulkan pertanyaan bagi kita semua. Bukankan Allah menjanjikan jika suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwa maka akan dibukakan pintu berkah dari langit? Namun keberkahan yang dinanti tak kunjung datang. Maka, patut kiranya kita merenung sekaligus mengevaluasi diri sendiri dan juga keadaan umat Islam secara umum sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama.

Boleh jadi keberkahan yang tak kunjung dibuka dikarenakan keadaan umat Islam yang acuh tak acuh terhadap permasalahan yang melanda umat Islam di negeri ini. Kepedulian terhadap saudara seiman menjadi bukti kebenaran iman seseorang, bahkan Rasulullah mempertegas dengan sabdanya “Barang siapa yang tidak peduli terhadap perkara orang-orang Islam bukan bagian dari kami”. (HR. Tabrani)

Mari kita tumbuhkan kembali sikap peduli kita terhadap sesama kalaupun kita tidak bisa membantu secara langsung minimal kita mendoakan kebaikan terhadap saudara kita. Diantara bukti persaudaraan dalam Islam adalah sikap tidak rela apabila ada salah satu saudaranya berada dalam kesulitan.

Rasulullah menjamin pahala bagi siapa saja yang mendoakan saudaranya dengan sabdanya : “Barang siapa yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengatahuannya maka malaikat mengamini dan berkata kamu mendapatkan sebagaimana doamu” (HR.Muslim).

Doa adalah senjata para nabi dan orang-orang sholih terdahulu yang menjadikan mereka generasi utama yang patut kita teladani. Dengan doa dan keyakinan mereka menggantungkan harapan kepada yang maha mengabulkan. Allah mengabadikan beberapa kisah dalam Al-Qur’an, salah satu contohnya adalah kisah Ibrahim yang mengalami cobaan yang sulit sehingga dia dibakar hidup-hidup. Dengan doanya, Allah menyelamatkan beliau dengan menjadikan api yang panas dan membakar menjadi dingin.

Mendoakan para penguasa adalah bagian dari pertolongan kita kepada sesama, terlebih apabila penguasa di Negeri ini satu aqidah dengan kita. Dalam kesempatan dan redaksi lain Rasulullah memerintahkan umatnya untuk saling menolong sesama muslim baik dalam keadaan dholim maupun terdholimi. Jikalau kita mendapati pemimpin bertindak dholim maka kewajiban kita menasehati, jika tidak sanggup maka yang paling mudah adalah mendoakan agar Allah memberinya petunjuk.

Sebagai penutup mari kita gunakan waktu-waktu dan tempat-tempat mustajab, untuk selalu memohon kepada Allah, agar di masa yang akan datang dikaruniai pemimpin yang baik juga peduli terhadap rakyatnya, sehingga Negeri kita menjadi Negeri dambaan sebagimana firman Allah “ Baldatun Toyyibatun Wa robbun Ghofur”. Wallahu A’lam